Jumat, 16 Desember 2011

Peluang Usaha Budi Daya Ikan Lele


Peluang Usaha Budi Daya Ikan Lele Peluang usaha budi daya ikan lele merupakan salah satu peluang usaha yang cukup diperhitungkan saat ini. Apabila kita perhatikan banyak terdapat penjual pecel lele yang memerlukan pasokan ikan lele setiap harinya, hal inilah yang membuat permintaan ikan tersebut menjadi semakin tinggi di pasaran dan membuka potensi peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Ternak ikan lele relatif lebih mudah apabila dibandingkan dengan ikan air tawar lainnya seperti ikan mas atau mujair karena lebih tahan terhadap penyakit maupun kondisi lingkungan. Berikut ini adalah gambaran secara umum tentang cara budidaya ikan lele


 *Pembenihan Lele. 
Adalah budidaya lele untuk menghasilkan benih sampai berukuran tertentu dengan cara mengawinkan induk jantan dan betina pada kolam-kolam khusus pemijahan. Pembenihan lele mempunyai prospek yang bagus dengan tingginya konsumsi lele serta banyaknya usaha pembesaran lele.

 * Sistem Budidaya Terdapat 3 sistem pembenihan yang dikenal, yaitu :

  1. Sistem Massal. Dilakukan dengan menempatkan lele jantan dan betina dalam satu kolam dengan perbandingan tertentu. Pada sistem ini induk jantan secara leluasa mencari pasangannya untuk diajak kawin dalam sarang pemijahan, sehingga sangat tergantung pada keaktifan induk jantan mencari pasangannya. 
  2. Sistem Pasangan. Dilakukan dengan menempatkan induk jantan dan betina pada satu kolam khusus. Keberhasilannya ditentukan oleh ketepatan menentukan pasangan yang cocok antara kedua induk. 
  3. Pembenihan Sistem Suntik (Hyphofisasi). Dilakukan dengan merangsang lele untuk memijah atau terjadi ovulasi dengan suntikan ekstrak kelenjar Hyphofise, yang terdapat di sebelah bawah otak besar. Untuk keperluan ini harus ada ikan sebagai donor kelenjar Hyphofise yang juga harus dari jenis lele. 


*Tahap Proses Budidaya 
A. Pembuatan Kolam. 
       Ada dua macam/tipe kolam, yaitu bak dan kubangan (kolam galian). Pemilihan tipe kolam tersebut sebaiknya disesuaikan dengan lahan yang tersedia. Secara teknis baik pada tipe bak maupun tipe galian, pembenihan lele harus mempunyai : Kolam tandon. Mendapatkan masukan air langsung dari luar/sumber air. Berfungsi untuk pengendapan lumpur, persediaan air, dan penumbuhan plankton. Kolam tandon ini merupakan sumber air untuk kolam yang lain. Kolam pemeliharaan induk. Induk jantan dan bertina selama masa pematangan telur dipelihara pada kolam tersendiri yang sekaligus sebagai tempat pematangan sel telur dan sel sperma. Kolam Pemijahan. Tempat perkawinan induk jantan dan betina. Pada kolam ini harus tersedia sarang pemijahan dari ijuk, batu bata, bambu dan lain-lain sebagai tempat hubungan induk jantan dan betina. Kolam Pendederan. Berfungsi untuk membesarkan anakan yang telah menetas dan telah berumur 3-4 hari. Pemindahan dilakukan pada umur tersebut karena anakan mulai memerlukan pakan, yang sebelumnya masih menggunakan cadangan kuning telur induk dalam saluran pencernaannya. 

B. Pemilihan Induk 
         Induk jantan mempunyai tanda : - tulang kepala berbentuk pipih - warna lebih gelap - gerakannya lebih lincah - perut ramping tidak terlihat lebih besar daripada punggung - alat kelaminnya berbentuk runcing. Induk betina bertanda : - tulang kepala berbentuk cembung - warna badan lebih cerah - gerakan lamban - perut mengembang lebih besar daripada punggung alat kelamin berbentuk bulat. 

C. Persiapan Lahan.
         Proses pengolahan lahan (pada kolam tanah) meliputi : - Pengeringan. Untuk membersihkan kolam dan mematikan berbagai bibit penyakit. - Pengapuran. Dilakukan dengan kapur Dolomit atau Zeolit dosis 60 gr/m2 untuk mengembalikan keasaman tanah dan mematikan bibit penyakit yang tidak mati oleh pengeringan. - Perlakuan TON (Tambak Organik Nusantara). untuk menetralkan berbagai racun dan gas berbahaya hasil pembusukan bahan organik sisa budidaya sebelumnya dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100m2. Penambahan pupuk kandang juga dapat dilakukan untuk menambah kesuburan lahan. - Pemasukan Air. Dilakukan secara bertahap, mula-mula setingg 30 cm dan dibiarkan selama 3-4 hari untuk menumbuhkan plankton sebagai pakan alami lele. Pada tipe kolam berupa bak, persiapan kolam yang dapat dilakukan adalah : - Pembersihan bak dari kotoran/sisa pembenihan sebelumnya. - Penjemuran bak agar kering dan bibit penyakit mati. Pemasukan air fapat langsung penuh dan segera diberi perlakuan TON dengan dosis sama 

D. Pemijahan. 
          Pemijahan adalah proses pertemuan induk jantan dan betina untuk mengeluarkan sel telur dan sel sperma. Tanda induk jantan siap kawin yaitu alat kelamin berwarna merah. Induk betina tandanya sel telur berwarna kuning (jika belum matang berwarna hijau). Sel telur yang telah dibuahi menempel pada sarang dan dalam waktu 24 jam akan menetas menjadi anakan lele. 

E. Pemindahan. 
           Cara pemindahan : - kurangi air di sarang pemijahan sampai tinggi air 10-20 cm. - siapkan tempat penampungan dengan baskom atau ember yang diisi dengan air di sarang. - samakan suhu pada kedua kolam - pindahkan benih dari sarang ke wadah penampungan dengan cawan atau piring. - pindahkan benih dari penampungan ke kolam pendederan dengan hati-hati pada malam hari, karena masih rentan terhadap tingginya suhu air. 

F. Pendederan. 
          Adalah pembesaran hingga berukuran siap jual, yaitu 5 – 7 cm, 7 – 9 cm dan 9 – 12 cm dengan harga berbeda. Kolam pendederan permukaannya diberi pelindung berupa enceng gondok atau penutup dari plastik untuk menghindari naiknya suhu air yang menyebabkan lele mudah stress. Pemberian pakan mulai dilakukan sejak anakan lele dipindahkan ke kolam pendederan ini. 

* Manajemen Pakan 
Pakan anakan lele berupa : - pakan alami berupa plankton, jentik-jentik, kutu air dan cacing kecil (paling baik) dikonsumsi pada umur di bawah 3 – 4 hari. - Pakan buatan untuk umur diatas 3 – 4 hari. Kandungan nutrisi harus tinggi, terutama kadar proteinnya. - Untuk menambah nutrisi pakan, setiap pemberian pakan buatan dicampur dengan POC NASA dengan dosis 1 – 2 cc/kg pakan (dicampur air secukupnya), untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tubuh karena mengandung berbagai unsur mineral penting, protein dan vitamin dalam jumlah yang optimal.

* Manajemen Air 
        Ukuran kualitas air dapat dinilai secara fisik : - air harus bersih - berwarna hijau cerah - kecerahan/transparansi sedang (30 – 40 cm). Ukuran kualitas air secara kimia : - bebas senyawa beracun seperti amoniak - mempunyai suhu optimal (22 – 26 0C). Untuk menjaga kualitas air agar selalu dalam keadaan yang optimal, pemberian pupuk TON sangat diperlukan. TON yang mengandung unsur-unsur mineral penting, lemak, protein, karbohidrat dan asam humat mampu menumbuhkan dan menyuburkan pakan alami yang berupa plankton dan jenis cacing-cacingan, menetralkan senyawa beracun dan menciptakan ekosistem kolam yang seimbang. Perlakuan TON dilakukan pada saat oleh lahan dengan cara dilarutkan dan di siramkan pada permukaan tanah kolam serta pada waktu pemasukan air baru atau sekurang-kurangnya setiap 10 hari sekali. Dosis pemakaian TON adalah 25 g/100m2.

 * Manajemen Kesehatan 
            Pada dasarnya, anakan lele yang dipelihara tidak akan sakit jika mempunyai ketahanan tubuh yang tinggi. Anakan lele menjadi sakit lebih banyak disebabkan oleh kondisi lingkungan (air) yang jelek. Kondisi air yang jelek sangat mendorong tumbuhnya berbagai bibit penyakit baik yang berupa protozoa, jamur, bakteri dan lain-lain. Maka dalam menejemen kesehatan pembenihan lele, yang lebih penting dilakukan adalah penjagaan kondisi air dan pemberian nutrisi yang tinggi. Dalam kedua hal itulah, peranan TON dan POC NASA sangat besar. Namun apabila anakan lele terlanjur terserang penyakit, dianjurkan untuk melakukan pengobatan yang sesuai. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa, bakteri dan jamur dapat diobati dengan formalin, larutan PK (Kalium Permanganat) atau garam dapur. Penggunaan obat tersebut haruslah hati-hati dan dosis yang digunakan juga harus sesuai.

Teknologi Hapa Tingkatkan SR Benih Gurami 96%

Teknologi Hapa Tingkatkan SR Benih Gurami 96% Selama ini kematian larva umur 7 hari hingga 50% menjadi momok bagi Munajat. Musababnya kehadiran predator seperti katak, bibis, dan uncit sulit terelakkan. Perubahan suhu juga menjadi gangguan. Belum lagi ketika hujan, gurami-gurami kecil terbawa Arus dan hilang. “Dari 5.000 benih, paling banyak 2.000—2.500 ekor selamat,” ujar kelahiran 11 Agustus 1961 itu. Enggan terus-menerus merugi, pensiunan guru Islamic School itu melakukan terobosan: memakai teknologi hapa di kolam pendederan. Meski tergolong sederhana, teknologi hapa terbukti efektif. Bahan yang diperlukan cuma hapa atau strimin plastik ukuran lubang 1 mm, tali rafi a, batu, eceng gondok, dan media kultur plankton. Total biaya Rp200.000 untuk hapa ukuran 3 m x 5 m yang menampung 5.000 benih. Efisiensi lahan Sistem hapa memberi keuntungan lebih lantaran bahan dan alat bisa digunakan berkali-kali. Umur strimin mencapai 5 tahun. 
              Bila setahun dilakukan 6 kali pendederan, berarti selama 5 tahun hapa bisa dipakai 30 kali. Efisiensi lahan pun dapat dilakukan. Dengan teknologi itu, kolam tak perlu dikeringkan layaknya cara konvensional. Satu kolam berfungsi ganda. Seluruh kolam tetap digenangi air; sebagian untuk pendederan dalam hapa, sebagian lagi dimanfaatkan untuk budidaya ikan lain. Kelebihan lain, teknologi hapa efektif mengisolasi predator. Katak, uncit, dan bibis bakal kesulitan menembus hapa yang berukuran kecil. Alhasil burayak pun aman di dalamnya sehingga panen seragam. “Jumlah makan tak berkurang karena hewan kompetitor tidak ada,” ungkap ketua Kelompok Tani Mina Mandiri itu. Panen di kolam berlangsung singkat karena cukup mengangkat seluruh hapa. Menurut Dr Triyanto, M.Sc., ketua Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian UGM, teknologi hapa tergolong terobosan baru. Sistem itu meningkatkan produksi karena menekan tingkat mortalitas larva. 
               “Hewan kompetitor bisa dikurangi sehingga tingkat keberhasilan pendederan gurami meningkat,” ujar Triyanto. Ancaman air Menurut Munajat, ide memakai hapa itu muncul setelah ia kerap menggunakan strimin sebagai penampung gurami ukuran konsumsi sebelum dijual. “Agar tak sulit menangkapnya saat pengepul datang,” tutur alumnus Universitas Islam Assyafi ah itu. Kemudahan itu pula yang kemudian dicoba saat pendederan. Akhir 2003, sebuah kolam 200 m2 tepinya dipasang hapa berukuran 3 m x 5 m. Agar posisi hapa kuat, setiap sudut hapa diberi tali yang diikatkan dengan pasak di tepi kolam. “Tidak seluruh hapa terendam air, tapi disisakan setinggi 40—50 cm di permukaan air,” ujar ketua Forum Gurami Banyumas itu. 
                 Luasan itu dapat menampung 5.000 benih. Sebelum benih ditebar, masukkan campuran dedak, tepung ikan, dan kotoran hewan ke dalam hapa. Berselang seminggu daphnia, moina, dan fitoplankton lain bakal membanjiri hapa. “Benih akan tumbuh optimal bila lingkungan sekitarnya banyak pakan alami,” ungkap Triyanto. Setelah benih ditebar, di atas hapa ditanami eceng gondok sebagai penahan air hujan. Selain itu akar Eichornia crassipes itu berguna sebagai sarang dan tempat bergelantungan burayak. “Hanya saja tanaman air jangan sampai melebihi sepertiga hapa,” tutur Munajat. Itu agar sinar matahari tetap masuk dan sirkulasi cahaya lancar. Sebulan berselang, benih ukuran biji oyong siap dituai. Jumlah panen mencapai 4.500— 4.800 ekor. Artinya tingkat keberhasilan sistem hapa mencapai 96%. Kelemahan hapa, larva mati bila bila lubang strimin tersumbat lumut. Untuk mengurangi risiko itu, bagian tepi hapa mesti dibersihkan dengan sikat atau cukup di-kucek perlahan dengan kedua tangan seminggu sekali.